Kamis, 15 Oktober 2009

Artikel Persaingan Bisnis

ARTIKEL PERSAINGAN BISNIS

The Never –Ending Cola War: Coke vs Pepsi

Perang antara Coca-cola (Coke) dan pepsi memang merupakan salah satu perang klasik dalam dunia pemasaran. Kedua merk ini zaman Legacy marketing dulu saling menyerang lewat iklan.

Salah satu iklan pepsi pada era 1980-an ada yang berjudul “Earth: Sometime in the Future”. Digambarkan seolah-olah kondisi bumi dimasa depan. Ada seorang guru yang membawa murid-muridnya berjalan-jalan ke sebuah situs arkeologi. Sambil berjalan-jalan, murid-murid tersebut minum Pepsi. Di sana mereka menemukan berbagai benda yang merupakan artifak dari masa lalu. Benda pertama adalah bola bisbol. Yang kedua adalah gitar.

Nah, benda ketiga yang ditemukan tidak jelas bentuknya karena sudah tertutup debu dan tanah. Sang guru lalu membersihkan benda tersebut, dan akhirnya benda tersebut menampakkan wujudnya yang asli. Murid-muridnya bertanya, benda apa itu? Dijawab oleh sang guru, “I have no idea.” Anda tahu benda apa itu? Ternyata itu adalah sebuah botol Coke! Iklan tersebut kemudian diakhiri dengan tulisan “Pepsi: The Choice of a New Generation.”

Kurang ajar, bukan? Memang, dari dulu Pepsi itu selalu membuat iklan-iklan komparasi yang “menghantam” Coke. Pepsi ingin mereposisi Coke sebagai kola yang kuno, kola nya orang tua. Tapi, Coke juga tidak tinggal diam. Coke pernah membuat iklan untuk merespon kampanye “Pepsi Challenge” pada tahun 1985.

Ketika itu Pepsi pernah melakukan blid test. Orang diminta memilih, mana yang lebih mereka sukai dari dunia minuman kola tanpa merek yang mereka minum. Kedua minuman itu nantinya diketahui masing-masing adalah Pepsi dan Coke. Hasilnya? Pepsi mengklaim bahwa kebanyakan orang lebih suka minum Pepsi ketimbang Coke.

Nah, selain merespon dengan mengeluarkan “New Coke” yang menjadi salah satu marketing failure paling terkenal itu, Coke juga sempat mengeluarkan iklan. Isinya membandingkan “Pepsi Challenge” dengan kisah dua ekor simpanse yangsedang memutuskan, bola tennis mana yang bulunya paling banyak! Kurang ajar, bukan? Memang, perang antar kedua kola ini sudah berlangsung turun-temurun dan bahkan jadi menarik untuk dinikmati.

Saya sendiri pernah berkunjung ke museum Coke di Atlanta, Amerika Serikat. Museum yang namanya “The World of Coca-Cola” ini menampilkan sejarah Coke lengkap denganiklan-iklannya yang terkenal dari masa ke masa. Iklan-iklan tersebut berasal dari seluruh dunia. Di sini juga ada botol Coke dari berbagai Negara. Ditampilkan juga bagaimana pengaruh Coke terhadap pop culture. Ada benda-benda seni yang terbuat dari botol dan kalengn Coke, yang salah satunya adalah karya artis terkenal Andy Warhol.

Ini menunjukan bahwa Coke menghargai keragaman budaya lokal dari masing-masing bangsa. Di China, nama Coca-Cola bahkan sengaja disesuaikan dan ditulis dengan empat karakter huruf Mandarin yang dieja sebagai “ke kou ke le” yang bisa diartikan sebagai “delicious happiness”.

Dalam soal budaya , Coke memang dianggap lebih berpengaruh ketimbang Pepsi. Tokoh Santa Clausa yang kita kenal sekarang misalnya seorang kakek tua berkumis dan berjanggut panjang berwarna putih dengan pakian merah putih disebut-sebut dipopulerkan pertamakalinya oleh Coke pada tahin 1930-an lewat iklan-iklannya.

Sementara itu, Pepsi selalu berupaya menampilkan citra sebagai kola yang lebih muda dari pada Coke. Pepsi selalu memanfaatkan selebritis yang dekat dengan anak muda pada masanya. Selebritis mulai dari Michael Jakson, Madonna, Britney Spears, David Beckham, Spice Girls, F4 sampai ke Jay Chow sempat menjadi brand endorses Pepsi.

Perang kola ini terus berlanjut di era Internet. Pepsi meluncurkan kembali program “Pepsi Stuff” pada tahun 2005 lalu, yang kemudian direspon Coke dengan meluncurkan program “Coke Rewards”. Keduanya adalah loyalty program yang memberikan hadiah kepada pelannggan yang berhasil mengumpulkan sejumlah poin secara online.

Bebagai kisah di atas menunjukkan bahwa kedua meek sama-sama hebat. Mereka sama-sama ingin jadi merek yang horizontal. Kalau Coke menempuh cara lewat pendekatan budaya local, Pepsi ingin memposisikan dirinya sebagai mereknya anak muda yang selain merupakan simbol masa depan, juga merupakan symbol horisontal.

Tidak ada yang mau jadi Legacy Brand. Tidak ada yang mau jadi Vertical Brand. Inilah contoh produk komoditas. Produk yang bukan hanya low-technology, namun malah no-technology. Kedua produk ini juga sudah sangat kuno. Mereka sudah ada sejak tahun 1980-an. Jadi usianya sudah lebih dari 100 tahun. Walaupun demikian, mereka tetap terus beerebut untuk jadi Horisontal Brand.

Lantas, siapa yang menang? Buat saya, it’s a never ending war. Hal ini karena mereka bermain traditional boxing, bukan Thai boxing atau American Wrestling seperti pernah saya bahas. Mereka tidak melakukan perang harga atau main curang.

Sumber : www.google.com

Bagaimana teknologi informasi moderen memberi kontribusi pada makin singkatnya Batas waktu transaksi bisnis?

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses , mendapatkan, menyusun , menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi , bisnis, dan pemerintah dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

E-Business merupakan salah satu transaksi bisnis dengan kegitan bisnis di Internet yang tidak saja meliputi pembelian, penjualan dan jasa, tapi juga meliputi pelayan pelanggan dan kerja sama dengan rekan bisnis ( baik individual maupun instansi).
Fungsi E- Bussines
Yaitu untuk mensupport bagian dari marketing, produksi, accounting, finance, dan human resource management. Proses transaksi online memegang peranan yang sangat penting pada e-business. Yang termasuk proses transaksi online adalah
1. Data entry
2. Transaction processing
3. Database maintenance (organization’s database)
4. Document and report generation
5. Inquiry processing (Proses pemeriksaan)

Salah satu fitur dari konsep e-Business adalah menawarkan cara-cara penciptaan, penyimpanan, pengolahan, dan pendistribusian informasi yang efesien dan efektif di dalam sebuah perusahaan maupun antara perusahaan dengan stakeholdernya.

Contohnya adalah sebuah perusahaan skala kecil di Legian (Bali) yang memanfaatkan teknologi internet untuk menjual (mengekspor) ribuan layangna ke Australia pada saat musim panas, atau perusahaan skala menengah di Jepara yang berhasil menggunakan situs untuk mempromosikan dan melakukan transaksi jual beli furniture ke Negara-negara Eropa. Dengan menggunakan internet tersebut maka penjualan atau mempromosikan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus pergi ke Negara tersebut.

Salah satu contoh lagi teknologi moderen nenberikontibusi pada makin singkatnya batas waktu transaksi bisnis adalah “Marketspace” adalah arena di dunia maya (internet), tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli secara bebas seperti layaknya pasar di dunia nyata (marketplace).
Contohnya di Indonesia adalah bertemunya calon pembeli dan calon penjual saham di bursa virtual (misalnya melalui aplokasi remote trading) sehingga yang bersangkutan tidak perlu harus bertemu dan bertatap muka di lantai bursa, atau bertemunya calon penbeli dan calon penjual berbagai barang dengan menggunakan metode lelang di internet.

Bidang Keuangan dan Perbankan
Untuk menunjang keberhasilan operasional sebuah lembaga keuangan / perbankan seperti bank, sudah pasti diperlukan sistem informasi yang handal yang dapat diakses dengan mudah oleh nasabahnya, yang pada akhirnya akan bergantung pada teknologi informasi online, sebagai contoh, seorang nasabah dapat menarik uang dimanapun dia berada selama masih ada layanan ATM dari bank tersebut, atau seorang nasabah dapat mengecek saldo dan mentransfer uang tersebut ke rekening yang lain hanya dalam hitungan menit saja, semua transaksi dapat dilakukan.

;;